Segala yang tanpamu, mengacaukan aku. Sebelum segala tentang kita berakhir, tahukah bahwa aku begitu merindukanmu?
Sesungguhnya, aku ingin bertemu kamu, menggenggam tanganmu, memelukmu, mihatmu, menyentuh pipimu, dan melihat secara dekat kebiasaan-kebiasaanmu. Tapi sayangnya itu semua hanya sebatas inginku. Iya, inginku. Ingin yang tidak kamu inginkan
Aku mencintamu
Mungkin dua kata itu yang dapat menggambarkan seluruh perasaanku untukmu. Mungkin, kamu tidak tahu, bahwa sesungguhnya aku terlanjur menjantuhkan hatiku kedalam hatimu, sangat dalam. Sampai aku tidak bisa menyadari kenyataan bahwa cintaku memang untukmu.
Entah perasaan ini terbalas atau tidak.
Yang pasti. Aku mencintaimu.
Dengan tanpa tapi.
Jauh sebelum kamu meninggalkan aku. Tahukah kamu bahwa namamu tidak pernah sekalipun lepas dari doa-doaku. Bahwa, aku ingin selalu diberi kemampuan oleh tuhan untk menjagamu. Bahwa aku ingin tuhan menulis takdirku untuk mendampingimu, pendamping yang siap dalam susah dan senang. Bahwa aku ingin Tuhan selalu mendengarkan doa-doaku yang untukmu.
Kini, aku harus menerima jika semua inginku hanya sebatas ingin yang tidak kamu inginkan. Pun jauh lebih menyakitkan adalah sekarang aku harus menerima bahwa tuhan tidak mengizinkan aku memilikimu jauh lebih panjang dari doa-doaku yang untukmu.
Tapi, itu semua tidak berarti bahwa setelah kehilanganmu, aku berhenti mendoakanmu. Memang aku kehilanganmu, tetapi aku masih bisa mencintaimu dalam doa.
Dalam doa, sebagai manusia kita bebas meminta apa saja. Untuk semua kebaikkanmu, aku akan terus berkirim doa. Jika bukan aku yang menjagamu, biarlah tuhan sendiri yang memelukmu, dalam bahagia yang hangat bersama seseorang yang mungkin akan menjadi penggantiku.
Bicara soal pengganti. Aku tidak tahu, apakah nanti aku akam cukup kuat untuk tidak cemburu melihatmu akhirnya dicintai, disayangi, dan diperhatikan oleh seseorang yang selain aku. Aku tidak tahu, apakah nanti aku akan cukup kuat untuk membencimu karena kamu telah melukaiku. Aku tidak tahu, apakah nanti aku akan cukup kuat menahan rindu yang tidak lagi bisa menemukan pelukmu yang untukku.
Aku terluka?
Iya.
Aku manusia biasa.
Tidak ada satu orang pun yang benar-benar siap dengan kehilangan
Aku patah hati?
Mungkin bisa dikatakan seperti ini.
Aku tidak ingin mengutuk apapun dari semua ini. Aku tidak pernah memintanya pergi, tetapi jika dia memutuskan berhenti, aku tidak akan menghalangi.
Bukan karena aku tidak mencintai, melainkan, aku tidak ingin bersama seseorang yang tidak lagi mencintai. Sebab, untuk apa bersama tapi hati menolak untuk bersama? Meski aku masih meyakini bahwa selama ini aku tidak sedang mencintai hati yang jahat. Tapi, tidak ada yang bisa kuperbuat selain mengikhlaskan semuanya, untuk mendamaikan hati.
Memang, tidak semua kenyataan datang seperti apa yang kita harapkan. itu sebabnya,kita harus selalu siap dengan dua kemungkinan -- terburuk dan terbaik.
Kini, aku hanya sedang benar-benar ingin bersahabat dengan waktu. Dengan berharap jika waktu akan membantu menyembuhkan setiap luka dan kecewa, serta membantuku melupakan dan memaafkan semua kenangan yang menyakitkan. Sehingga, ketika nanti aku kembali menemukan, aku tidak lagi mencampuri dengan apapun yang telah mati di masa lalu. Agar aku bisa mencintai seseorang dengan hati dan ingatan yang baru.
Aku sudah siap menjadi aku yang baru, yang tidak lagi mencintai masalalu. Kepergianmu yang tanpa pamit, mungkin akan aku pahami sebagai caramu untuk tidak terlalu membuatku patah. Aku menghargai. Jika suatu hari nanti, dalam suatu keadaan, takdir dengan sengaja mempertemukan kita lagi, aku akan melihat dan menyapamu dengan perasaan yang tanpan benci, aku berjanji.
Kupastikan, saat itu juga aku telah berdamai dengan semua hal yang berkaitan denganmu.
Aku tidak butuh pasangan yang sempurna.
Cukup yang bersedia saling memperbaiki bersama.
Karena aku percaya,
Pasangan yang baik bisa dibentuk atas kerja sama,
Aku dan kamu yang saling melengkapi
(S.A)
dari buku yang berjudul "segaris rindu"
Karya: Sarah Aulia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar